Kota Sorong - Papua Barat

Kota Sorong termasuk ke dalam wilayah Provinsi Papua Barat. Informasi dari website BPS, nama Sorong berasal dari kata soren. Soren dalam bahasa Biak Numfor yang berarti laut yang daIam dan bergelombang. Kata Soren digunakan pertama kali oleh suku Biak Numfor yang berlayar pada zaman dahulu dengan perahu-perahu layar dari satu pulau ke pulau lain hingga tiba dan menetap di Kepulauan Raja Ampat. Suku Biak Numfor inilah yang memberi nama " Daratan Maladum" dengan sebutan SOREN yang kemudian dilafalkan oleh para pedagang Thionghoa, Misionaris clad Eropa, Maluku dan Sanger Talaut dengan sebutan Sorong.
Kota Sorong dikenal dengan istilah Kota Minyak sejak masuknya para surveyor minyak bumi dari Belanda pada tahun 1908. Kota Sorong terkenal sebagai salah satu kota dengan Atribut peninggalan sejarah Heritage Nederlands Neuw Guinea Maschcapeij (NNGPM) atau kota yang penuh dengan sisa-sisa peninggalan sejarah bekas perusahaan minyak milik Belanda. Informasi lebih lanjut mengenai Kota Sorong klik di sini.

Penerbangan menuju Sorong ini dilakukan dari Makassar pada Juni 2010 setelah melakukan travelling ke Ternate. Penerbangan ke Sorong menggunakan Batavia Air. Flight ke Sorong jam 04.00 pagi dari Bandara Sultan Hasanuddin Makassar. Menggunakan maskapai Batavia, keberangkatan telat sekitar 30 menit. Penerbangan ke Sorong ditempuh sekitar 2,5 jam. Selain Batavia Air, penerbangan juga dapat ditempuh menggunakan Express Air atau Merpati. Sampai di Bandara Domine Eduard Osok (DEO) Sorong sekitar jam 6.45 pagi. Bandara ini terletak di pinggir pantai dan dari udara terlihat daratan tertutup kabut tipis. Sangat disayangkan, pada tahun 2010 tersebut, bandara ini tidak memiliki pendingin ruangan di ruang tunggu keberangkatan.


 Bandara Domine Eduard Osok

Banyak penumpang pesawat yang sekedar transit beberapa jam di Sorong untuk pergi ke Raja Ampat. Sayangnya karena waktu tidak mencukupi sehingga tidak sempat ke Raja Ampat. Paket kapal penyeberangan ke Raja Ampat untuk wisatawan domestik sebesar Rp250 ribu.

Kota Sorong sangat sepi, yang cukup ramai malah di kabupatennya, yaitu  Aimas. Tidak ada hotel berbintang di sini, namun harga cukup mahal. Saat itu, menginap di hotel Je Meridien (bukan Le Meridien) yang terletak di dekat bandara. Untuk informasi lebih lanjut mengenai hotel ini klik di sini. Nama di sorong cukup banyak seperti plesetan misalnya Pasar Swalayan Saga (di Jakarta ada Sogo) atau Hotel Mariat (di Jakarta Marriot).

 
 Sekilas Kota Sorong

Dari pusat kota kita dapat menuju pelabuhan dalam waktu singkat karena jaraknya yang dekat dan tidak ada macet. Pelabuhan di Sorong menurut informasi penduduk setempat lebih banyak kapal yang merapat dari Jawa dibandingkan Jayapura. Di Sorong juga terdapat kilang minyak milik Pertamina. 

Harga makanan di Sorong termasuk mahal. Untuk makan di restoran Padang yang cukup besar dengan lauk ayam goreng, perkedel, es jeruk untuk 2 orang bisa mencapai Rp140 ribu. Sedangkan bila makan di warung padang kecil, dengan lauk kikil bisa kena Rp25 ribu. Untuk restoran fast food sudah terdapat KFC. Bila malam banyak penjual ikan bakar dan pecel lele/ayam dekat pantai dimana penjualnya merupakan orang Jawa dan Bugis.

Pantai di Sorong termasuk sangat bagus dengan air yang membiru namun sayang nya saat itu hanya sempat melihat pantai yang di dekat kota, tidak sempat ketempat yang lebih alami. Kita dapat menikmati sunset dari pinggir pantai kota Sorong. Sepanjang pantai ini di beri tembok dengan nama Tembok Dofior atau orang-orang menyebutnya tembok Berlin. Tembok ini berfungsi untuk menahan abrasi pantai. Pada saat sore hari banyak terdapat pengunjung yang menantikan sunset dan penjual makanan.


 
 
 
 

 


 Panorama Kota Sorong

No comments:

Post a Comment